Thursday, 23 June 2016

JANGAN HINA ORANG LAIN

Mereka yang melakukan perbuatan melampai batasan termasuk menghina dan mengherdek orang lain mendapat seksaan yang pedih.

Firman Allah SWT yang bermaksud: “Sesungguhnya kesalahan hanya ada pada orang yang berbuat zalim kepada manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa (menghiraukan kebenaran). Mereka itu mendapat seksaan yang pedih.” (Surah asy-Syura, ayat 42)

Iyad bin Himar berkata, Rasulullah SAW bersabda: “Allah yang Maha Tinggi memberi wahyu kepada saya, menyuruh saudara sekalian merendahkan diri antara satu sama lain, sehingga tidak ada orang yang berasa dirinya lebih hebat daripada orang lain dan tidak ada orang bersikap angkuh terhadap orang lain.” (Riwayat Muslim)

Ada kala tanpa kita sedar perkataan yang keluar menyebabkan orang lain berasa diri seakan dihina disebabkan kelebihan kita miliki serta kekurangan ada pada mereka. Keadaan ini boleh menyebabkan timbul rasa iri hati.

Sebagai hamba beriman, setiap nikmat dikurniakan Allah SWT sepatutnya disyukuri bukan dijadikan sebab untuk bermegah-megah hingga menyebabkan timbul rasa riak dalam diri. Manusia semua sama di sisi Allah SWT dan yang membezakan adalah tahap ketakwaan mereka.

Firman Allah SWT yang bermaksud: “Jangan kamu menganggap dirimu suci. Dia mengetahui berkenaan orang yang bertakwa.” (Surah an-Najm, ayat 32)

Sebaiknya, kita sentiasa merendahkan diri dan menanamkan dalam jiwa bahawa setiap insan itu sama kerana yang hebat hanya Allah SWT, kita semua hanya meminjam kehebatan itu yang mana akhirnya nanti kita akan dipertanggungjawabkan atas setiap perbuatan dilakukan.

Kehidupan hari ini memperlihatkan ramai yang bertarung untuk membina kehidupan baik untuk diri serta keluarga masing-masing. Mereka berlumba-lumba untuk meningkatkan taraf ekonomi supaya dapat menjalani kehidupan selesa.

Sebenarnya, banyak perkara dalam kehidupan berkait antara satu sama lain dan kesudahannya adalah demi menjaga kemaslahatan manusia. Hubungan baik sesama manusia menghasilkan hidup yang harmoni sebaliknya prasangka hanya menjurus kepada permusuhan.

Oleh itu, dalam setiap tindakan dibuat, kesan baik dan buruknya perlu difikirkan. Jadilah orang yang memberi manfaat kepada orang lain dan jika itu juga tidak mampu dilakukan, pastikan diri tidak menjadi masalah kepada orang lain.

--------------------------------

Ada beberapa pesan yang disampaikan oleh Nabi SAW kepada Abu Jurayy Jabir bin Sulaim. Pesan yang pertama adalah jangan sampai menghina dan meremehkan orang lain. Boleh jadi yang diremehkan lebih mulia dari kita di sisi Allah.

Abu Jurayy Jabir bin Sulaim, ia berkata, “Aku melihat seorang lelaki yang perkataannya ditaati orang. Setiap kali ia berkata, pasti diikuti oleh mereka. Aku bertanya, “Siapakah orang ini?” Mereka menjawab, “Rasulullah SAW” Aku berkata, “‘Alaikas salaam (bagimu keselamatan), wahai Rasulullah (ia mengulangnya dua kali).” Beliau lalu berkata, “Janganlah engkau mengucapkan ‘alaikas salaam (bagimu keselamatan) kerana salam seperti itu adalah penghormatan kepada orang mati. Yang baik diucapkan adalah assalamu ‘alaik (semoga keselamatan bagimu.”

Abu Jurayy bertanya, “Apakah engkau adalah utusan Allah?” Beliau menjawab, “Aku adalah utusan Allah yang apabila engkau ditimpa malapetaka, lalu engkau berdoa kepada Allah, maka Dia akan menghilangkan kesulitan darimu. Apabila engkau ditimpa kekeringan selama satu tahun, lantas engkau berdoa kepada Allah, maka Dia akan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan untukmu. Dan apabila engkau berada di suatu tempat yang gersang lalu untamu hilang, kemudian engkau berdoa kepada Allah, maka Dia akan mengembalikan unta tersebut untukmu.”

Abu Jurayy berkata lagi kepada Rasulullah SAW, “Berilah pesan kepadaku.”
Rasul SAW pun bersabda: “Janganlah engkau menghina seorang pun.” Abu Jurayy berkata, “Aku pun tidak pernah menghina seorang pun setelah itu, baik kepada orang yang merdeka, seorang budak, seekor unta, maupun seekor domba.”

Rasulullah SAW bersabda: “Janganlah meremehkan kebaikan sedikit pun walau dengan berbicara kepada saudaramu dengan wajah yang tersenyum kepadanya. Amalan tersebut adalah bagian dari kebajikan.

Tinggikanlah sarungmu sampai pertengahan betis. Jika enggan, engkau bisa menurunkannya hingga mata kaki. Jauhilah memanjangkan kain sarung hingga melewati mata kaki. Penampilan seperti itu adalah tanda sombong dan Allah tidak menyukai kesombongan.

Jika ada seseorang yang menghinamu dan mempermalukanmu dengan sesuatu yang ia ketahui ada padamu, maka janganlah engkau membalasnya dengan sesuatu yang engkau ketahui ada padanya. Akibat buruk biarlah ia yang menanggungnya.” (Hadis riwayat Abu Daud no. 4084 dan Tirmidzi no. 2722.  Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadis ini sahih. Al Hafizh Ibnu Hajar menyatakan bahawa hadis ini sahih).

Di antara wasiat Rasul SAW dalam hadis di atas adalah janganlah menghina orang lain. Setelah Rasul menyampaikan wasiat ini, Jabir bin Sulaim pun tidak pernah menghina seorang pun sampai pun pada seorang budak dan seekor hewan.

Dalam surat Al Hujurat, Allah SWT memberikan kita petunjuk dalam berakhlak yang baik. Firman Allah SWT bermaksud: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik.” (Surah  Al Hujurat: 11)

Ibnu Katsir rahimahullah berkata bahwa ayat di atas berisi larangan melecehkan dan meremehkan orang lain. Dan sifat melecehkan dan meremehkan termasuk dalam kategori sombong sebagaimana sabda Rasul SAW:  “Sombong adalah sikap menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” (Hadis Riwayat Muslim no. 91).

Yang dimaksud di sini adalah meremehkan dan menganggapnya kerdil. Meremehkan orang lain adalah suatu yang diharamkan karena bisa jadi yang diremehkan lebih mulia di sisi Allah seperti yang disebutkan dalam ayat di atas.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 6: 713).

Ingatlah orang  jadi mulia di sisi Allah dengan ilmu dan takwa. Jangan sampai orang lain diremehkan dan dipandang hina. Allah Ta’ala berfirman:“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (Surah Al Mujadilah: 11)

Seorang bekas budak suruhan pun boleh jadi mulia dari yang lain lantaran ilmu. Cuba perhatikan kisah seorang bekas budak suruhan ini.

Dari Nafi’ bin ‘Abdil Harits, ia pernah bertemu dengan Umar.  Umar memerintahkan Nafi’ untuk mengurus Makkah. Umar pun bertanya, “Siapakah yang mengurus penduduk Al Wadi?” “Ibnu Abza”, jawab Nafi’. Umar balik bertanya, “Siapakah Ibnu Abza?” “Ia adalah salah seorang bekas budak dari budak-budak kami”, jawab Nafi’.

Umar pun berkata, “Kenapa bisa kalian menyuruh bekas budak untuk mengurus seperti itu?” Nafi’ menjawab, “Ia adalah seorang yang paham Kitabullah. Ia pun paham ilmu faroidh (hukum waris).”

Umar pun berkata bahwa sesungguhnya Nabi SAW telah bersabda, “Sesungguhnya suatu kaum boleh dimuliakan oleh Allah lantaran kitab ini, sebaliknya mungkin  dihinakan pula kerananya.” (Hadis Riwayat Muslim no. 817).
-------------------------