Sunday, 15 January 2017

HUKUM MAIN CATUR

Islam adalah agama syumul.  Ajaran ajaran Islam akan membawa manusia pada keperluan di dunia dan akhirat. Semua aturan Islam, sama ada perintah dan larangan, merupakan pilihan terbaik bagi kehidupan umat.

Setiap perkara ada hukumnya sama ada wajib, haram, makruh, sunat dan harus. Hal ini tersuk dalam soal main catur. 

Para ulama sudah membincangkan hukum main catur. Dan sebagaimana biasa pendapat mereka tidak sama. Secara ringkasnya kita sebutkan beberapa pendapat mereka.

Pendapat Pertama: Mereka yang mengharamkan main catur.

Mereka adalah jumhur ulama dari kalangan Al-Hanafiyah, Al-Hanabilah dan sebahagian riwayat pendapat Imam Malik ra. Ulama Al-Hanafiyah menetapkan bahwa permainan catur itu hukumnya makruh baik main dadu atau catur. Sedangkan bila permainan itu bercampur dengan unsur judi, atau dilakukan secara rutin atau bahkan sampai meninggalkan pekerjaan yang wajib, maka hukumnya menjadi haram secara ijma`.

Sedangkan Al-Malikiyah mengatakan bahwa permainan tersebut tidak ada kebaikan di dalamnya.  Atas dasar itu pemainnya dianggap lebih berminat melakukan perkara yang sia-sia dan sekaligus meletakkan mereka tidak mematuhi larangan melakukan perbuatan sia-sia yang mana layak orang yang bermain catur tidak boleh diterima kesaksiannya. Al-Hanabilah mengatakan bahwa permainan catur itu hukumnya haram secara mutlak.

Firman Allah: “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan shalat; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu).” (QS. Al-Maidah: 90 – 91)

Ketika menafsirkan ayat ini, al-Qurthubi mengatakan:
Ayat ini menunjukkan haramnya bermain dadu dan catur, baik untuk judi mapun bukan untuk judi. Kerana Allah SWT ketika mengharamkan khamr, Allah SWT menyampaikan secara tersirat apa yang ada dalam permainan itu dalam firman-Nya (yang artinya): “Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamr dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan shalat.”

Maka semua permainan yang menyebabkan terjadinya permusuhan dan saling membenci di antara pemain, serta menghalangi orang untuk mengingat Allah SWT dan melaksanakan sembahyang maka statusnya seperti minumkhamr, sehingga harus berstatus haram, seperti minumkhamr. (Tafsir al-Qurthubi, 6:291)

Terdapat larangan tegas dari Nabi SAW hanya untuk main dadu. Kerana di zaman beliau, permainan itu yang baru dikenal. Melalui sabdanya, Nabi SAW menegaskan: “Siapa yang bermain dadu, dia seperti mencelupkan tangannya ke daging babi dan darahnya.” (HR. Muslim 2260).

Berkaitan dengan hadis ini, al-Nawawi mengatakan
“Hadis ini merupakan dalil Imam Syafii dan majoriti ulama lainnya tentang haramnya bermain dadu. Makna: ‘mencelupkan tangannya ke daging babi dan darahnya’ sebagaimana ketika orang makan daging dan darah babi, yaitu menyamakan haramnya bermain dadu sebagaimana haramnya makan babi.” (Syarh Shahih Muslim, 15:15)

Dalam riwayat yang lain, Nabi SAW bersabda:
Siapa yang bermain dadu maka dia telah bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya.” (HR. Ahmad 19521, Abu Daud 4938, Ibn Majah 3762, Ibn Hibban dalam shahihnya 5872, dan yang lainnya. Hadis ini dinilai hasan oleh al-Albani)

Dari riwayat ini, para sahabat menghukumi permainan catur dengan menggunakan qiyas (analogi) hukum untuk dadu.

Terdapat keterangan sahabat tentang catur
Dari Maisarah an-Nahdi, bahwa Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu pernah melewati sekelompok orang yang bermain catur, kemudian beliau membacakan ayat:
“Patung-patung apakah ini yang kamu tekun beri’tikaf (memperhatikan) kepadanya?” (QS. Al-Anbiya: 52)

Keterangan Ali ini disebutkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalamal-Mushannaf no. 26158.

Dalam riwayat Baihaqi, terdapat pernyataan yang semaksud, hanya saja ada tambahan:
“Seseorang menyentuh bara api sampai bara itu mati, itu lebih baik baginya dari pada dia menyentuh catur.” (HR. al-Baihaqi dalam Sunan ash-Shughra no. 3348 dan Syuabul Iman, no. 6097)

Imam Ahmad mengatakan:
Riwayat paling shahih tentang catur adalah keterangan Ali bin Abi Thalib. (asy-Syarhul Kabir Ibn Qudamah, 12:45)

Ibnu Umar pernah ditanya tentang hukum catur, beliau menjawab:
“Permainan itu lebih buruk dari pada dadu.”

Juga diriwayatkan dari Ibnu Syihab, bahwa sahabat Abu Musa al-Asy’ari pernah mengatakan: “Tidak ada yang bermain catur, kecuali orang yang berdosa.”

Sementara itu, dari Abu Ubaidillah bin Abu Ja’far, bahwa Abu Said al-Khudri membenci bermain catur.

Ibnu Syihab az-Zuhri juga pernah ditanya tentang bermain catur, kemudian beliau menjawab:
“Itu termasuk kebatilan dan Allah tidak mencintai kebatilan.”

Semua riwayat sahabat di atas disebutkan oleh al-Baihaqi dalam Syuabul Iman, no. 6097.

Dari Ibnu Abi Laila, dari al-Hakam, beliau berkomentar tentang permainan catur:
“Para sahabat menganggap orang yang melihat papan catur sebagaimana orang yang melihat daging babi. Sementara orang yang menggerakkan pion catur seperti orang yang membolak-balikkan daging babi.” (HR. Ibnu Abi Syaibah no.26160)
Manakala keterangan Ulama pula

Ibnu Qudamah mengatakan: “Untuk main catur, sama haramnya dengan main dadu.” (al-Mughni, 14:155)

Dalam kumpulan dosa-dosa besar, adz-Dzahabi mengatakan: “Tentang permainan catur, majoriti ulama mengharamkannya, baik dengan taruhan maupun tanpa taruhan. Jika dengan taruhan maka statusnya judi, tanpa ada perselisihan ulama. Jika tanpa taruhan, itu juga termasuk judi menurut majoriti ulama.” (al-Kabair, 89)

Pendapat Kedua: Mereka yang mengatakan makruh

Pendapat ini didokong oleh para ulama Asy-Syafi`iyyah dan para pengikutnya. Hanya Imam Al-Ghazali mengatakan bahwa hal-hal tersebut menjadi makruh bila dilakukan secara rutin, yakni menyebabkan banyak masa dihabiskan.

Adz-Dzahabi menyebutkan, bahwa Al-Nawawi pernah ditanya tentang permainan catur, haram ataukah boleh? Beliau menjawab:
“Jika itu menyebabkan orang tertinggal solat dari waktunya, atau bermain dengan taruhan (berjudi) maka itu haram. Jika tidak, hukumnya makruh menurut Syafi’i, dan haram menurut ulama lainnya.” (al-Kabair, 90)

Akan tetapi, kita juga perlu hati-hati, kerana istilah makruh menurut para ulama masa silam, mungkin tidak sebagaimana makruh sebagaimana pengertian fikih masa sekarang. Mereka menyebut makruh kerana ketaqwaan mereka, sehingga tidak berani menegaskan ini haram. Menegaskan hukum halal dan haram adalah hak Allah. Sehingga mereka hanya menggunakan ungkapan umum, dibenci, dalam erti harus ditinggalkan.  

Pendapat Ketiga: Mereka yang mengatakan harus.

Ini adalah pendapat para tabiin besar seperti riwayat daripada Abi Yusuf dari Al-Hanafiyah dan mereka memberikan alasan jika permainan itu dimaksudkan untuk melatih otak.

Al-Hafiz Ibnul-Bar berkata bahwa pendapat jumhur fuquha tentang catur adalah bahwa orang yang memainkannya tanpa ada unsur judi dan dilakukan secara tertutup bersama keluarga sekali dalam sebulan atau setahun dan juga tidak diketahui oleh orang lain maka hukumnya dimaafkan dan tidak haram atau tidak makruh. Tapi jika dia melakukannya secara terang-terangan maka maruah dan keadilannya jatuh sehinggga mengakibatkan kesaksiannya tidak diterima. (Lihat al-Tamhid : 13/183 dan Al-Qurtubi : 8/338.

Di antara orang yang memberikan rukhshah untuk bermain catur selama tidak ada unsur judi adalah: Said bin Musayyab, Said bin Jubair, Muhammad bin Sirin, Urwah bin Zubair, As-Sya`bi, Al-Hasan Al-Bashri, Ali bin Hasan bin Ali bin Abi Thalib, Ibnu Syihab, Rabi`ah dan Atho` (Lihat At-Tamhid : 13/181).

Pendapat ini juga disepakati oleh Dr. Yusuf Al-Qordhawi dalam kitab Halal dan Haram seperti berikut: “Di antara permainan yang sudah terkenal ialah catur. Para ahli fiqh berbeza pendapat tentang hukumnya, antara harus, makruh dan haram. Mereka yang mengharamkan beralasan dengan beberapa hadis Nabi s.a.w. Namun para pengkritik dan penyelidiknya menolak dan membatalkannya. Mereka menegaskan, bahwa permainan catur hanya mulai tumbuh di zaman sahabat. Oleh kerana itu setiap hadis yang menerangkan tentang catur di zaman Nabi adalah hadis-hadis batil (dhaif).

Para sahabat sendiri berbeza dalam memandang masalah catur ini. Ibnu Umar menganggapnya sama dengan dadu. Sedang Ali memandangnya sama dengan judi. (Mungkin yang dimaksud, iaitu apabila diiringi dengan judi). Sementara ada juga yang berpendapat makruh.

Dan di antara sahabat dan tabi'in ada juga yang menganggapnya harus. Di antara mereka itu ialah: Ibnu Abbas, Abu Hurairah, Ibnu Sirin, Hisyam bin 'Urwah, Said bin Musayyib dan Said bin Jubair.

Sesungguhnya majoriti ulama hari ini berpendapat bermain catur adalah harus.  Ini memandangkan catur dilihat dapat membantu melatih kecerdasan minda dan strategi.

Namun tentang keharusannya ini, ia ada tiga syarat:

1. Tidak boleh menyebabkan tertundanya solat

2. Tidak boleh bercampur dengan unsur judi

3. Boleh menjaga lisannya ketika sedang bermain untuk tidak bercakap kotor atau membicarakan hal orang lain dan yang sejenisnya.

Kalau ketiga syarat ini tidak dapat dipenuhinya, maka dapat dihukumi haram.
(halal haram dalam Islam : Prof Dr Yusuf al-Qaradhawi)

No comments:

Post a Comment